Assalamualaikum wr.wb

Salam Pramuka!

Alhamdulillah, puji syukur kepada Allah SWT. Penulis dapat meneruskan blog ini lagi setelah mungkin sekian tahun tidak posting kembali di halaman ini. Pada kesempatan ini, saya mereview perhelatan akbar dalam jenjang kehidupan dalam kepramukaan umumnya, dan dalam dunia penggalang khususnya.

Jambore yang merupakan pesta besar untuk golongan penggalang, menjadi ajang bergengsi untuk peserta didik. Jambore daerah merupakan ajang yang mungkin prestisius untuk usia penggalang, karena tingkatannya di bawah level Nasional. Pada tanggal 26-31 Oktober 2015 telah dihelatnya Jamda DKI Jakarta XII 2015 dengan menyisakan berbagai kesan, kenangan juga beberapa masukan. Berikut beberapa point masukan dari penulis yang kebetulan hidup langsung dalam kegiatan Jamda DKI Jakarta ke-12 di Buperta Cibubur. Dengan harapan, panitia pelaksana, sangga kerja, ataupun yang memiliki wewenang dapat menindak lanjuti beberapa masukan yang penulis utarakan dalam blog yang sederhana ini. Ada beberapa point yang akan dipaparkan oleh penulis.

Pertama, adalah jadwal dan tanggal yang tidak sesuai dengan yang tertulis dalam surat edaran yang diterbitkan oleh kwarda. Dalam surat edaran tertulis tanggal 27-31 Oktober 2015. Tanpa disertai dengan rundown umum jalannya acara. Otomatis dampak dari tanggal tersebut, adalah tanggal perizinan bagi peserta didik dan juga bindamping yang dimulai dari tanggal 27 Oktober 2015. Nyatanya setelah koordinasi dengan Kwartir Ranting masing-masing, pelaksanaan atau jadwal kedatangan tertulis tanggal 26 Oktober 2015. Kedatangan peserta merupakan salah satu bentuk persiapan kedatangan. Pada Jamda XI 2013 tertulis jelas jadwal sebagai berikut: Kedatangan peserta tanggal 27 Oktober 2013 dari jam 08.00 – 16.00. Karena upacara pembukaan diadakan pada malam hari. Kemudian berhubungan dengan jadwal adalah kerancuan kegiatan.

Kedua, masalah komunikasi. Jamda yang lingkupnya tingkat daerah adalah semua kegiatan yang berdasar dengan “katanya”. kenapa demikian? Karena semua komunikasi dari pusat disebarkan melalui applikasi online Watsapp. Ironis, memang. Karena bindamping, pinkonran fokus dengan handphonenya ketika sedang kegiatan. Dengan alasan tidak bolehnya listrik dan sound sistem. Alasan yang cukup konyol dalam event sebesar jambore. Pesta sebesar itu tidak ada sound sistem, analogi nya adalah hajatan besar tidak adanya musik, lagu, dll yang mendukung meriahnya acara. Jujur saya ucapkan, jamda kemarin lebih seperti kuburan. Dan juga kelistrikan, ada yang bilang boleh, ada yang bilang tidak. Sebuah kerancuan fatal. Memang dalam tekspram kita diusahakan untuk tidak menggunakan listrik di alam bebas. Namun lucu juga, kita yang berkomunikasi dengan sesama pinkonran dan bindamping dari lurah putri memakai handphone yang bisa beroperasi dengan adanya aliran listrik tidak diperkenankan untuk memakai listrik, sampai ada kejelasan di hari kedua.

Ketiga, pembagian kavling. Tata letak dalam Jamda dibilang tidak cukup fair. RW satu terletak di ujung, lapangan utama di ujung, bazar juga di ujung. Jika mau fair Lapangan Utama dan bazar sebaiknya dialokasikan di tengah buper Jamda XII 2015. Pernah saya berpapasan dengan orang bazar “Kakak, tolong dong setelah kegiatan, anak-anaknya digiring ke bazar!” kemudian dijawab, “kak kita mau ISHOMA, dan melanjutkan kegiatan lagi” Peserta didik juga sebenarnya agak kewalahan jika harus balik ke RW1 atau RW 2 yang letaknya di “luar negri” untuk ISHOMA dan kembali ke bazar. kecuali yang didepan seperti RW 5. Tata letak yang kurang strategis menurut saya.

Sistem satuan terpisah memang diterapkan di sini, namun ada dampaknya. Dampaknya ada sebagian RW yang keaktifannya timplang, ada yang aktif di RW Putranya adapun sebaliknya, bahkan ada yang tidak aktif sama sekali. RW 2 (Jakarta Utara) adalah kavling yang ranting saya tempati. Tidak jelas mana gapura RW, mana tenda komando RW bahkan pinkoncabnya pun saya tidak tahu. Pada Jamda 2013 segala macam senam, pemberangkatan kontingen cabang ke lokasi kegiatan dipimpin oleh Pinkoncab (RW), bukan pinkonran, atau bindamping. Di lapangan pun berubah kami masing-masing berjalan sendiri-sendiri per-ranting. Sehingga kesan jambore Daerahnya luntur. Tata letak di RW 2 juga tidak begitu rapih, karena yang saya sebutkan sebelumnya, pinkoncabnya tidak tahu menahu. Bukan berarti saya mendiskreditkan suatu cabang tertentu, tapi ini fakta di lapangan. Berbeda dengan RW 4 (Jakarta Selatan) yang dilihat dari jalan tengah, terkesan rapi, pembagian kavlingnya pun demikian tertata, pusat informasi RW nya pun jelas.

Keempat, tentang kegiatan Jamda. Berdasarkan rotasi kegiatan dan juklak yang dibagikan, tertulis Outbound yang lokasinya berada di danau Cibubur, yang terdiri dari beberapa kegiatan di air (Banan Boat, Rafting, Flying Fox, Rescue, dll) namun fakta di lapangan berkata lain. Pos Outbound HANYA flying fox dan tarik tambang. Berbeda jauh dari ekspektasi peserta, yang ketika di pangkalan sudah dipaparkan berbagai kegiatan. Terutama outbound. Saya bertanya ke peserta didik “Bagaimana out-boundnya?” Suara lantang yang didengar oleh saya dari 4 regu ranting saya kompak menjawab “Ah.. apaan kak cuma flying fox sama tarik tambang! Katanya di danau? Ini saya sudah bawa baju salin untuk basah-basahan.”Kesan yang didapat oleh peserta hanya kekecewaan karena ketidaksiapan panitia. Namun, untuk pos scouting skillnya bagus untuk menambah wawasan penggalang dalam keterampilan dalam kepramukaan. Kemudian, masalah Penulisan mushaf Al-Quran yang digemborkan masuk MURI. Kita kembali ke sifat Pramuka yang universal. Menurut saya agak kurang pas jika memasukkan kegiatan kaligrafi mushaf Al-Quran, dengan pertimbangan, di Jamda DKI XII 2015 pesertanya tidak semuanya beragama Islam. Walaupun penulis sendiri muslim, menyarankan agar kegiatan yang menyangkut agama tertentu, dilaksankan dengan tema tertenut. Contoh: Penulisan Mushaf Al-Quran dalam rangka Jambore Penggalang Santri se-DKI Jakarta, atau se-Jakarta Timur dll. Kemudian pemilihan waktunya juga tidak pas. waktu dimulainya kegiatan pada pukul 14.00 dan berakhir pada pukul 17.00 sehingga sholat Ashar dilakukan mepet dengan waktu maghrib. Untuk perbandingan, pada Jamda XI 2013 peserta Jamda ke tenda untuk 3 hal: Istirahat, Makan, Ganti Baju. Sisanya di lokasi kegiatan dengan berbagai macam kegiatan.

Kelima, Jambore Kit. Pada pelaksanaan Jamda XII 2015 pembagian kaos dan lainnya dibagikan pada hari Rabu 28 Oktober 2015. Kabar yang saya terima dari pinkonran saya, bahwa Jakarta Selatan kurang 100 potong kaos dan tas. Masalah ini sudah sounding ke pusat dan teken surat pernyataan tentang kekurangan logistik kit jambore. Dan sampai hari ini, sertifikat kegiatan Jamda XII 2015 belum ada kabar lanjutannya.

Demikian tulisan ini saya muat, dengan tujuan EVALUASI agar pelaksanaan Jamda, Jamnas di kemudian hari menjadi lebih baik, terkoordinir, meriah dan terkesan di hati peserta didik, bindamping dan lembaga atau instansi yang berkecimpung dalam kegiatan ini. Penulis mohon maaf jika terdapat kalimat kasar atau pemilihan diksi yang kurang baik. Semoga Gerakan Pramuka Indonesia menjadi lebih baik di kemudian hari.

Wassalam

Salam Pramuka!

Iklan

KAMUS SLANK GONTOR by Gaosul Alam

Posted: Februari 20, 2015 in Bahasa

Sebenernya masih banyak kamus slanknya yg blom dimasukin.. nanti tak tambahin dah

walisantrigontor

‘Adi ; kelas biasa (asal dari SD/MI)

Abu Naum ; istilah bagi yang suka tidur

Anadzofah ; (nilai) kebersihan

Berlin : Bagian Kebersihan Lingkungan

CLI ( central of language improvement ), anggota CLI alias asisten pembantu bagian bahasa alias orang-orang pilihan yang memiliki kemampuan lebih dalam penguasaan arab dan inggris di antara sesama santri alias memiliki mental ” komitmen ” menggunakan bahasa resmi serta menegakkan disiplin bahasa santri ( maaf banyak aliasnya ). Anggota drama ( mungkin yang dimaksud anggota kelompok/club teater santri ) Kelompok ini menurut pengamatan saya, beranggotakan individual-individual yang memiliki kepercayaan diri luar biasa di atas rata-rata ukuran santri Gontor, kepercayaan diri disini maksudnya percaya diri untuk tampil dan berekspresi, percaya diri untuk mengeluarkan ide-ide segar kapan dan dimanapun saja..anggota pramuka ( mungkin yang pak didik maksud, pasukan khusus ( pasus ) koordinator kepramukaan atau pasus tiap-tiap regu/kelompok bentukan koordinator kepramukaan..anak-anak pasus memiliki loyalitas luar biasa terhadap…

Lihat pos aslinya 1.220 kata lagi

JEMARI BUTA [PUISI]

Posted: Desember 9, 2013 in Bahasa, Indonesia
Tag:, , ,

Jemariku sudah buta
Tak mampu melihat kata
Kini hanya meraba
Tak bertutur tak bercerita

Jemari yang buta
Puisi yang lama tak bersua
Kertas pensil yang merana
Kian rapuh dimakan usia

Tak tersentuh oleh jemari
Sang buta yang tak lari
Yang dulu lincah dia menari
Bersama pena dgmn senyum berseri

Kertasnya pun rapuh
Pena pensilnya jatuh
Jemariku tak mampu lagi mengayuh
Menuju cakrawala puisi yg jauh

Jemariku yang telah buta
Kini hanya bisa meraba
Sampai kapan kau hanya mengiba
Membuang waktumu yang percuma

Wahai jemariku!
Bukalah matamu!
Lihatlah di depanmu!
Tumpukan kertas jalan hidupmu!

Gandenglah sang pena
Berdansalah dengan mesra
Di atas kertas kau bersama
Melahirkan karya sastra

-Jakarta, 18 November 2013
Oleh: Ibnu Hudzaifah

Hatsune Miku Cosplayer.

Derasnya arus teknologi informasi pada saat ini menyebabkan pertumbuhan arus informasi yang masif. Berita, atau informasi yang terjadi di tempat yang jauh dapat kita ketahui dengan cepat melalui teknologi informasi. Informasi tentang hobi, budaya, politik, bencana dan lain sebagainya sangat mudah ditemukan di era teknologi informasi yang kian canggih.

Banjirnya teknologi informasi juga merebaknya budaya atau hobi yang mungkin dianggap sebagian orang itu ‘aneh’ atau agak sedikit nyeleneh dibandingkan dengan hobi yang lain. Cosplay, yang kata asalnya Costume Play adalah memainkan karakter atau tokoh dari anime, manga, manhwa, game, fiksi, atau kartun hollywood. Orang yang memakai kostum-kostum tersebut disebut Cosplayer. Cosplay bukan hanya memakai kostum belaka, namun mereka juga harus turut memainkan karakter, sifat dan kepribadian dari karakter yang dimainkannya. Para cosplayer berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi karakter yang dimainkannya, tapi tetap saja tokoh yang dimainkan agak sulit untuk tampil se-sempurna mungkin, karena tokoh fiksi bisa dibuat se-sempurna mungkin dari bentuk tubuh dan tampilan fisiknya.

Terlepas dari itu semua, muncullah di forum lokal negeri ini sebuah tulisan yang memperdebatkan tentang keberadaan cosplay, bahkan ada salah satu fanpage yang tidak begitu menyukai a.k.a anti-cosplayer Indonesia. Sekedar informasi, penulis bukanlah COSPLAYER! Tapi, penulis sebagai pengamat, dan pemantau apa yang menjadi pro dan kontranya cosplay di Indonesia sampai munculnya tulisan yang sebetulnya tidak perlu ditulis. Tulisan ini juga sebenarnya tak usah ditulis jika penulis ketika browsing menemukannya di mesin pencari.

Setelah ditelusuri, kebanyakan yang menjadikan mereka di sisi kontra adalah Cosplay merupakan budaya asing yang identik dengan Jepang yang pernah menajajah Indonesia. Saya jadi ingat sebuah pepatah, jika kau ingin tahu panasnya api, letakkan tanganmu di atas api. Jika kau ingin tau bagaimana cosplay itu, cobalah punya teman yang memiliki hobi cosplay. Cosplay itu hobi! Sekali lagi cosplay itu hobi, dan orang yang punya hobi, dia pasti berdedikasi terhadap hobinya. Uang, waktu, tenaga tak dipedulikan karena hobi tersebut. Saya heran saja kenapa mereka sewot tentang cosplay?Menghamburkan uang? Tidak bermanfaat? Tidak Nasionalis? Dan mereka menganggap cosplay adalah budaya. Pemikiran yang menurut saya agak keliru. Kenapa?

Budaya adalah cara hidup yang berkembang dan dimiliki bersama oleh sebuah kelompok orang dan diwariskan dari generasi ke generasi. Sedangkan hobi adalah kegiatan rekreasi yang dilakukan pada waktu luang seseorang untuk menenangkan  pikiran seseorang. Tujuan hobi adalah untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Terdapat berbagai jenis hobi seperti, koleksi, mencipta, memperbaiki, bermain dan lain sebagainya.  (Wikipedia)

Jika cosplay adalah budaya maka cara hidup mereka adalah dengan menggunakan kostum tiap harinya. Tapi apa demikian faktanya? Jika cosplay adalah hobi maka kegiatan cosplay mereka adalah untuk rekreasi yang dilakukan PADA WAKTU LUANG yang tujuannya untuk memenuhi keinginan dan mendapatkan kesenangan. Jenis hobi yang ada dalam cosplay bisa berupa : membuat (costume), koleksi, dan bermain (karakter yang dimainkan).

Andai saja anda memiliki hobi koleksi mobil mewah apa ada yang melarang? Koleksi JERSEY klub bola luar yang harganya ratusan ribu atau jutaan apa bisa dijudge sebagai tidak nasionalis? Buang-buang uang?  Apa itu salah satu budaya kita? Menurut Anda, membeli mobil mewah untuk sekedar koleksi hanya menghamburkan uang. Tapi coba Anda lihat lagi definisi dari hobi dan tujuannya. Jadi jangan salahkan orang jika Anda punya hobi tapi dicela orang lain. Kenapa? Anda sendiri mencela hobi orang lain. Kenapa harus marah?

Masalah nasionalis, anggapan miringnya “Ah cosplay tidak nasionalis!” Ehm.. coba Anda ikut kegiatan Car Free Day tiap hari minggu. Anda akan menemukan sekelompok orang dengan kostum ala jaman kuno dengan sepeda kumbang. Bahkan ada yang berdandan ala Jendral Sudirman, Bung Karno, Bung Hatta, atau Bung Tomo. Apa mereka bukan cosplay? Kekurangan kita sebagai orang Indonesia adalah membangkitkan tokoh-tokoh pahlawan kita dalam serial hiburan televisi kita.

Munculny film Soekarno, atau film bertema nasionalis di layar lebar, apa pemerannya tidak termasuk Cosplay?? Cobalah tanya atau googling, apa definisi dari cosplay, cosplay dalam bahasa Indonesianya bermain/berperan sesuai dengan kostum.

Hal yang membedakan antara kita dengan orang Jepang adalah, mereka tidak meremehkan atau menyepelekan satu hal kecil, berbeda dengan kita. Hal kecil ditiup diblow-up sehingga melebar dan terus melebar. (Merasa gak sih?). Bukannya tidak berbangga dengan bangsa sendiri, intinya memandang sesuatu harus disertai dengan sisi positifnya, bukan dari sisi negatif saja karena akan muncul opini timplang sebelah.

Berbeda dengan orang Jepang. Kok bisa? Ambil contoh Anime Naruto. Dalam anime tersebut ada tiga tokoh: Jiraiya, Tsunade dan Orochimaru. Mereka bertiga adalah tokoh legenda dalam masyarakat Jepang. Mangaka menyisipkan tiga tokoh tersebut dalam alur cerita agar anak-anak Jepang tidak lupa dengan budayanya.  Berbeda dengan di Indonesia yang isinya sinetron, gosip, hiburan lawak dan lain sebagainya. Ukuran nasionalis seseorang tidak bisa kita ukur dari hobi kita. Contoh lain, Pramuka. Menurut saya Pramuka itu hobi bukan profesi. Jadi, apa seorang Pramuka berarti dia seorang nasionalis? Belum tentu.

Kenapa tidak membaca buku sastra dibanding dengan membaca Manga atau lainnya? Hahahahaha.. Pertanyaan itu saya temukan di salah satu page di forum. Ehm  kalau boleh nih yah.. Minat atau kecenderungan itu tidak bisa dipakasan. Okelah itu prinsip pribadi tapi jangan dipaksakan. Sekangan apa itu sastra menurut dia? Anime atau manga juga ada yang bergenre slice of life atau drama. Drama juga bagian dari sastra. Karya apapun yang dituangkan dalam bentuk apapun baik berupa tulisan, cerita, yang perantaraannya bahasa merupakan sastra. Jadi apakah manga dan anime tersebut dapat dikategorikan sastra? Menurut saya bisa. Dalam setiap cerita atau manga/anime terdapat pesan moral yang disampaikan oleh mangaka kepada pembacanya.

Pelajaran yang diambil dari seorang cosplayer:

  1. Dedikasi terhadap hobinya.
  2. Memiliki bakat akting.
  3. Memiliki bakat tata rias
  4. Memiliki bakat tata busana. (bagi yang buat kostum sendiri)
  5. Memiliki tingkat kepercayaan diri yang tinggi.
  6. Ramah terhadap orang lain. (sesi foto)

Saran dan Penutup

Dari sana penulis juga memberi saran demikian “Bagimu hobimu, dan bagiku hobiku” atau urus saja urusan masing-masing, kalau suka ya silahkan kalau tidak suka ya tutup mata, telinga dan lidah. Tidak usah memaksakan kehendak kalau tidak suka

Permintaan Maaf

Posted: Agustus 22, 2013 in Bahasa

Sehubungan dengan modem dan koneksi provider jaringan yang sangat membuat emosi, jadinya postingan blog sobat Iebennsama jadi agak terganggu. Tapi mudah-mudahan akan lancar kembali, dan bisa berbagi informasi dengan cara yang menyenangkan

Apalah Arti Sebuah Titel

Posted: Agustus 22, 2013 in Bahasa
Tag:, ,

Akhir-akhir ini media dibombardir oleh pemberitaan seorang “dai” yang menuai beberapa tanggapana miring. Atas kasus absennya dai itu disebuah event yang diselenggarakan oleh WNI di Luar Negeri yang notabene pekerja. Keabsenannya karena masalah honor atau tarif atau apalah yang membuatnya tidak bisa mendatangi tempat tersebut, untuk mengisi ceramah atau tausiah. 

Apakah arti sebuah titel?

Titel di depan nama memiliki amanat atau penghargaan yang setinggi tingginya. Di Indonesia. Contoh saja titel-titel sebagai berikut

-Alm (Almarhum)

-Prof. (Profesor)

-H/Hj. (Haji/Hajah)

-Dr (Doktor)

-dr. (Dokter)

-Ust/Usth. (Ustadz/Ustadzah)

 

Di tulisan saya kali ini, saya akan membahas titel Ustadz. Prolog yang saya paparkan di atas saya ganti dari ustadz menjadi ‘dai’ dengan tanda kutip. ^^

Oke.. Di Indonesia kata Ustadz adalah orang yang dianggap memiliki kapabilitas dalam masalah-masalah hukum, atau pengetahuan tentang islam. Orang yang memiliki “kelebihan” dalam hal ilmu, wawasan, atau dari segi fisik penampilan. seseorang yang fasih berbahasa Arab ketika berada di lingkungan awan yang asing dengan bahasa Arab, orang tersebut akan dipanggil ustadz. Ataupun orang yang pekerjaannya ceramah dimana-mana sampai menembus di layar kaca juga disebut dengan ustadz. Tapi apakah anda tahu?

Jika anda mengetahui sistem gelar di timur tengah, gelar Ustadz disetarakan oleh Professor, sebagai contoh: 

Professor. Doktor. Ahmad, MA maka jika di timur tengah Menjadi Al Ustadz Ad Duktur Muhammad, MA. Untuk penulisan singkatnya, Al Ustadz di wakilkan oleh huruf Alif, Gelar Doktor diwakilkan dengan huruf ‘dal”

Sebuah titel dengan amanah yang besar. Menjaga sikap dan perilaku wajib bagi penyandang titiel tersebut walaupun titiel tersebut hasil catutan.

Wah wah bagaimana kabar sobat iebennsama nih? Gomen udah hampir 2 bulan gak posting-posting soalnya lagi ada troble di PC heheh.. nah sekarang Iebennsama mau share soal event kemarin bulan Juni 2013

Berhubung sekolah kami swasta maka acara kelulusan dan wisuda dilaksanakan pada tanggal 29 Juni 2013. Dengan susunan acara formal dan tersusun. Dalam acara kelulusan ini, ditampilkan seluruh kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah. Nah, kami dari Pramuka menampilkan Semaphore Dance. Berhubung latihannya yang kurang dari satu minggu maka formatnya seperti itulah tapi mudah-mudahan terhibur. Latihan yang singkat karena pasukan baru selesai lomba, makanya latihannya dikebut.

Awalnya, konsep dancenya seperti tahun kemarin dengan musik Pramuka Sejati. Namun, karena saya senang dengan lagu-lagu AKB48 yang nge-beat dan lirik-liriknya bagus. Saya coba dengan menggunakan lagu Give Me Five – AKB48 yang sesuai dengan momen kelulusan. Berikut tautan videonya.

Dikutip dari posmetrobatam.com

BOSTON, Metro – Sedikitnya ada lima intel militer swasta AS yang beroperasi di tempat kejadian ledakan bom di maraton Boston. Mereka semua membawa ransel hitam yang terlihat sangat mirip dengan ransel yang membawa bom pressure cooker, seperti dikonfirmasi NaturalNews pada Kamis (18/4/2013).

Media mainstream AS kabarnya benar-benar menyensor penyebutan intel “Craft”, berpura-pura seakan mereka bahkan tidak ada. Hanya media alternatif yang melakukan jurnalisme investigatif nyata pada berita pengeboman tersebut.

Dengan posting peneliti di 4Chan, ditambah analisis NaturalNews, ditemukan sebuah titik terang baru seperti yang bisa dilihat dalam foto-foto di bawah ini.

Siapa orang ini dan apa yang dia pegang di tangannya?

Berikut foto setelah ledakan bom pertama. Banyak orang bertanya, “Siapa orang ini?” dan mengapa ia mengenakan sepatu tempur dan celana militer? Lebih penting lagi, apa yang dia bawa di tangannya?

Dengan sedikit riset, NaturalNews mengkonfirmasi benda ini adalah sebuah perangkat “Inspector Radiation Alert” yang dapat mendeteksi jenis radiasi yang akan diproduksi dalam serangan bom kotor atau serangan nuklir:

 

Segala macam pertanyaan segera bermunculan, seperti: Siapa yang mempekerjakan orang ini? Berada di pihak siapakah dia? Kenapa dia mengantisipasi kebutuhan untuk detektor radiasi nuklir? Jenis operasi militer swasta apa yang secara rutin membawa gadget mahal seperti itu? 

Empat intel lainnya dengan seragam yang sama persis

Melalui foto-foto berikut, didapati ada 4 intel militer swasta lainnya dengan pakaian yang sama: sepatu tempur berwarna coklat, celana militer coklat, jaket hitam, ransel hitam dan alat komunikasi taktis.

Berikut adalah gambar tiga orang diantaranya yang bereaksi terhadap ledakan. Yang di tengah adalah orang yang sama dalam foto dengan detektor radiasi, di atas:

 

beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam gambar ini:

1) Ketiga orang itu tampak terkejut, bahkan terguncang oleh ledakan bom. Ini mungkin menunjukkan sesuatu yang bertentangan dengan pengetahuan mereka tentang pemboman.

2) Benda di tangan kanan pria yang di tengah mungkin menyerupai pistol kecil, tapi tidak ada operasi militer swasta yang sangat terlatih yang akan membawa pistol dengan “menjepit” pegangan seperti yang ditampilkan dalam foto itu. Sebuah pegangan yang benar pada pistol jauh lebih dalam ke telapak tangan. Benda ini kemungkinan besar merupakan detektor radiasi yang sama yang ditunjukkan seperti gambar di atas, hanya saja diambil dari sudut yang berbeda.

3) Pria di sebelah kiri, seorang pria yang lebih tua, tampaknya memegang benda di tangan kanannya yang sepertinya bisa digerakkan dengan ibu jarinya.

4) Orang di sebelah kanan mengenakan logo tengkorak “Craft” di kemejanya karena jaketnya kebetulan terbuka di foto di bawah ini.

Berikut perbandingan foto logo “Craft” pada kemejanya:

Berikut adalah dua intel lainnya di tempat kejadian, mengenakan seragam yang sama persis: –

Jika dilihat, topi yang sama dari orang-orang ini dengan jelas memperlihatkan logo tengkorak “Craft” pada topi:

memperlihatkan logo tengkorak “Craft” pada topi:

Penembak jitu angkatan laut SEAL, Chris Kyle, juga anggota dari “Craft”. Dia dibunuh oleh salah satu teman dekatnya beberapa bulan yang lalu. Munculnya intel “Craft” saat bom maraton Boston menimbulkan pertanyaan baru tentang kematian Chris Kyle.

Berikut Chris Kyle di TV nasional AS yang mengenakan topi “Craft”:

Berikut moto Craft, yang mengatakan “Kekerasan memecahkan masalah.”

Di sini, ransel yang membawa bom pressure cooker terlihat sangat mirip dengan ransel hitam yang dikenakan oleh intel-intel Craft

Berikut tampilan lain logo tengkorak “Craft” pada kemeja pelatihan yang diambil dari situs mereka sendiri

Foto ini menunjukkan para intel dalam sebuah pameran. Semua orang memakai sepatu tempur dan celana coklat:

Apa artinya semua ini?

Mungkinkah foto orang-orang pada acara tersebut hanyalah sebuah teori konspirasi?

Jika iya, dalam pekerjaan polisi, ini akan disebut sebagai “bukti”, dan orang-orang dalam foto ini harusnya menarik perhatian.

Namun media mainstream dan seluruh aparat penegak hukum AS saat ini seakan berpura-pura bahwa orang-orang ini tidak ada. Mungkin juga itu konspirasinya.

Bagaimanapun, masyarakat AS mengetahui bahwa intel “Craft” tidak bekerja secara gratis. Mereka bukan kelompok relawan. Mungkin ada yang membayar mereka untuk berada di acara tersebut. Namun, ini juga bukan pertama kalinya “Craft” muncul di acara besar AS.

Siapa yang membayar “Craft” untuk berada di sana? Dan apa misi mereka?

Mengapa keberadaan mereka di acara maraton Boston seakan disembunyikan? Mengapa mereka bukan “orang yang berkepentingan” dalam penyelidikan?

Mengapa mereka membawa detektor radiasi? Apa yang ada di ransel mereka?

Apa motif pembom dalam menggunakan bom pressure cooker ? Yang instruksi pembuatannya banyak tersebar di google dan juga tampil dalam edisi pertama majalah Al-Qaeda berbahasa Inggris “Inspire”  tahun 2010.

Faktanya, banyak media AS yang seakan menolak mengakui keberadaan intel militer swasta itu dalam ledakan bom Boston.

Dan di tengah banyaknya spekulasi mengenai bom Boston, Duta Besar Amerika Serikat (AS) untuk Indonesia, Scot Marcel, telah menyatakan bahwa peristiwa bom Boston adalah murni tindakan kriminal (dan bukan “terorisme”).

“Ini (bom Boston) adalah tindakan kriminal. Ini tidak ada hubungannya dengan agama,” ujar Scot Marciel di rumah Kedutaan AS, Jalan Suropati, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (18/4), kepadaDetikcom.

Mengutip pernyataan salah seorang pejabat AS, salah satu tersangka pelaku peledakan Boston telah ditangkap, ujar surat kabar Boston Globe, seperti dilansir Al Jazeera.

Tersangka tersebut berada di dalam tahanan, ujar media lokal.  Sejauh ini pihak kepolisian AS belum mengungkapkan identitas tersangka yang telah berada dalam tahanan mereka itu.

Sementara tersangka lainnya masih dalam pengejaran, lapor Boston Globe pada Jum’at (19/4). (banan/arrahmah)

Twitter menjadi media pembelajaran bahasa yang bagus berdasarkan anda bisa memanfaatkannya dengan baik. Beberapa waktu lalu akun @shinjukucenter memberikan penjelasan  tentang penggunaan #partikel “GA” dalam bahasa Jepang berikut timelinenya:

@shinjukucenter:
Mina san, setelah membahas #partikel WA bebrapa hari yg lalu, kali ini kita bahas #partikel GA yg banyak ditanyakan siswa bhs jepang.
#partikel GA tidak memiliki arti, tapi memiliki banyak fungsi, di antaranya adalah :
1. Mengikuti Kata Tanya yang posisinya sebagai subyek kalimat. Cth : dare ga kimashita ka. (siapa yang datang?) #partikel
 cth lain : nani ga atta no? (ada apa?/Apa yg telah terjadi?) #partikel
– doko ga warui no? (di mana letak kesalahannya?) #partikel
2. Jawaban atas pertanyaan kata tanya yg menjadi subyek kalimat. Cth : watashi ga kimashita. (saya yg datang). #partikel 
3. Menekankan/menegaskan subyek kalimat. Cth : watashi ga yarimasu! (saya yang akan melakukan!) #partikel
 anata ga warui! (kamu yang salah!) #partikel
 kore ga oishii! ( ini baru enak!) #partikel
4. menunjukkan keberadaan/kepemilikan. Contoh : uchi ni inu ga imasu. (di rumah ada anjing). niwa ni hana ga arimasu. (di taman ada bunga)
– jishin ga arimasu! (punya rasa percaya diri!) #partikel
 watashi wa okane ga takusan arimasu. (aku punya banyak duit) #partikel
5. Kejadian alam. Contoh : – ame ga furimasu (hujan turun), kaze ga fukimasu (angin bertiup), – yuki ga furimasu (turun salju) #partikel
6. Menunjukkan obyek unt. kalim dgn kata kerja : wakarimasu (mengerti), dekimasu (bisa), kikoemasu (terdengar), miemasu (terlihat) #partikel

– watashi wa nihongo ga sukoshi wakarimasu. (saya mengerti sedikit bahasa jepang) #partikel

uchi no mado kara yama ga miemasu. (dari jendela rumah terlihat gunung) #partikel
7. Menunjukkan obyek di kalimat yg memiliki arti kebisaan/kesanggupan #partikel

watashi wa nihongo ga hanasemasu. (saya bisa bicara bahasa jepang) #partikel

– watashi wa kanji ga yomemasu. (saya bisa membaca huruf kanji). #partikel

8. Menunjukkan Obyek di kalimat yang predikatnya Kata Sifat. #partikel

boku wa kimi ga suki da. (aku suka kamu) #partikel

ano hito wa kami no ke ga mijikai desu. (orang itu rambutnya pendek) #partikel

 

Demikian penjelasan dari akun twitter @shinjukucenter mengenai penggunaan partikel GA dalam bahasa Jepang. Arigatou Gozaimashita!!

Hakikat Seorang Pramuka

Posted: April 22, 2013 in Indonesia, Pramuka
Tag:

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Pramuka tak lepas dari sejarah bangsa Indonesia. Walaupun dulunya bukan bernama Pramuka tapi ini tetap menjadi acuan yang baik untuk kelangsungan pendidikan kaum muda secara non-formal. Baden Powell yang mencetuskan gerakan kepanduan di Inggris menyebar sampai ke seluruh dunia. Menjadi pandu atau pramuka maka harus berjanji dengan janji sesuai negara yang memiliki organisasi kepanduan. Dan mengamalkan kode etik kepramukaan. Namun apa hakikat pramuka.

Hakikat seorang pramuka BUKAN yang menjuarai berbagai lomba kepanduan, mengikuti jambore dan lain sebagainya. Itu semua hanya SARANA kegiatan. Hakikat seorang pramuka adalah yang mengamalkan janji Tri Satya dan Dasa Dharmanya. Saya menulis judul ini setelah memperhatikan keadaan pramuka ketika lomba pramuka di salah satu sekolah di Jakarta Selatan.

Ketika di pertengahan lomba Yell, anak didik saya agak kurang fit sampai pingsan. Tak lama tim medis panitia datang dan membawa tandu untuk dibawa ke pos PPPK. Namun, ketika saya dan teman-temannya menolong, saya melewati satu regu pramuka entah dari sekolah mana berkata “Ah.. Paling cuma akting!”  Saya langsung berhenti dan berkata kepada anak itu. “Lepas saja seragam pramukanya! Tidak pantas.”

Apa saat ini pramuka seperti itu? ketika anak-anak lain hanya menonton salah satu “saudara” pramukanya ditandu?

Anak didik seperti itu yang dicekoki oleh doktrin-doktrin Pramuka menang lomba. Tidak menang lomba bukan Pramuka kelas elit. Sehingga terjadi pergeseran makan dan hakikat sesungguhnya dari Pramuka sendiri.

Semoga, dapat mengambil hikmah dan pelajaran dari tulisan ini.